Hari Pemuda, Saatnya Pemerintah Kota Kita Apresiasi Kreativitas Pemuda

TEENERS MUSIC FEST X

Di Bandung, pada awal bulan Maret lalu sebuah gebrakan dilakukan oleh walikota yang didukung oleh pemerintah kota tersebut. Ridwan Kamil, sang walikota, merealisasikan sebuah taman terbuka hijau bernama Taman Musik Centrum di salah satu titik Kota Kembang. Taman itu menjadi sebuah simbol pemerintah mendukung kreativitas berkesenian para warganya, terutama anak muda. Di taman itu, segala kegiatan berkesenian musik bebas dilakukan oleh siapa saja. Pemkot Bandung bahkan berharap dengan adanya ruang berekspresi itu akan mampu menelurkan seniman-seniman yang membanggakan kota mereka.

Bagi para pemuda kota Bandung, hadirnya sebuah ruang berekspresi bisa jadi sebagai penanda oase di padang sahara. Belum hilang di memori mereka sebuah kejadian memilukan menodai dinamika permusikan di kota itu. Pada tahun 2008, sebuah kemalangan menimpa beberapa pemuda saat sebuah pergelaran musik tengah berlangsung di salah satu tempat di Bandung. Tanpa harus mengungkit pihak yang salah, kejadian tersebut agaknya membuat pemerintah dan generasi mudanya terpaut sebuah jarak selama beberapa waktu.

Kerenggangan itu seakan-akan pencerminan sebuah gejala sosial yang muncul dan berkembang di dalam masyarakat ketika birokrasi bertemu khalayaknya. Kitapun sama-sama tahu pertemuan itu lebih sering tidak sepaham. Tapi bila berkaca dari yang dilakukan oleh para pemegang kebijakan di Kota Bandung terkait taman yang terlebih dahulu saya ceritakan, sebuah jarak antara birokrat dan khalayak muda mulai bisa dipangkas sedikit demi sedikit. Dalam kasus ini, kuncinya terletak pada langkah pemerintah menghargai kreativitas generasi mudanya.

Di kota Padang, kegiatan berkesenian khususnya dalam bentuk bermusik intensitasnya memang belum seperti di kota Bandung. Meski begitu, wujud ekspresi anak muda pada dalam hal bermusik tidak bisa dikatakan tidak ada. Merujuk Padangonstage.com, sepanjang tahun 2013 lalu tercatat ada 20 gelaran kegiatan musik yang telah dilakukan oleh sejumlah kelompok anak muda kota Padang. Berarti setidaknya ada satu sampai dua gelaran musik rutin dilakukan setiap bulannya.

Jumlah itu masih diluar sejumlah gelaran sejenis yang disokong oleh pendanaan dari perusahaan-perusahaan mapan. Keberadaan nafas musik generasi muda di ibukota provinsi Sumatra Barat itu patut diapresiasi. Selain karena menghindarkan mereka dari hal-hal negatif, jiwa kreativitas generasi muda juga terus terjaga.

Lebih Dekat dengan Pemuda

Memasuki pertengahan bulan Agustus ini, genap seratus hari sudah walikota baru kita yang baru menjalankan pemerintahannya di Kota Bingkuang. Namun berkaca dari kepemimpinan walikota dan wakilnya pada periode lalu, perhatian pada kegiatan kreatif generasi muda masih jauh panggang dari api. Padahal, di kota-kota besar lain peran kreatif generasi muda dalam membangun daerahnya mulai diperhitungkan. Terlebih pertumbuhan di sektor ekonomi kreatif Indonesia saat ini sangat membantu perkembangan sebuah kota.

Di kota Padang, antara birokrasi dan para pemudanya juga bisa dikatakan memiliki jarak, walaupun tidak bisa dikatakan saling bertolak belakang. Pemerintah dan anak muda di Kota Padang masih terlihat bergerak sendiri-sendiri. Tidak ada kolaborasi yang nyata untuk memajukan daerah, ataupun setidaknya membanggakan daerah. Pemerintah hanya peduli dengan program yang mereka susun, pemuda pun juga hanya peduli dengan kegiatan pribadi mereka. Wajar saja perkembangan kota Padang dalam sejumlah bidang selama 5 tahun terakhir tidak terlihat signifikan.

Era baru kota Padang seharusnya mulai terlihat setelah memasuki seratus hari pemerintahan anyar ini. Pemilihan walikota dan wakil walikota telah terselenggara. Harapan-harapan untuk membuat Kota Padang menjadi lebih baik tidak pernah luput dari delapan ratus ribu jiwa lebih warganya, tak terkecuali para generasi muda. Oleh karenanya, pemerintah kita seyogyanya lebih memperhatikan aktivitas kreatif dan positif dari para pemudanya.

Salah satu yang bisa pemangku kebijakan kita lakukan ialah dengan merangkul anak muda penerus bangsa. Dalam komunikasi politik, selalu ada ikatan antara pemimpin dengan pengikutnya. Kuat lemahnya ikatan itu tergantung penempaan oleh kepuasan material, sosial, dan emosional yang dirasakan seseorang dari keikutsertaan dalam politik. Bila ikatannya kuat, tentu saja sebuah pemerintahan akan berjalan lancar karena didukung oleh masyarakatnya. Walikota baru yang terpilih nantinya diharapkan mampu menempa ikatan mereka dengan pengikutnya, dalam hal ini anak-anak muda, dengan cara lebih memperhatikan kepuasan sosial dan emosional anak-anak muda itu. Ridwan Kamil baru-baru ini melakukan penempaan pada generasi muda di kota itu dengan memberi wadah nyata untuk menghargai kreativitas anak muda dalam bentuk pengukuhan Taman Musik Centrum.

Dalam suasana peringatan Hari Pemuda Internasional yang jatuh pada 12 Agustus ini, tidak ada salahnya kita berharap pemimpin kita nanti juga lebih memperhatikan dan mengapresiasi kreativitas warga mudanya, khususnya dalam musik. Apapun bentuknya, mari kita tunggu langkah mereka.

 

Aldo Fenalosa,

Pegiat di Padangonstage.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *