Selamat Hari Pers Nasional, Para Jurnalis Musik!

Copyright by Almost Famous

Apa jadinya Festival Woodstock tanpa pemberitaan oleh media massa? Bisa jadi ajang tersebut hanya akan menjadi festival musik biasa sekelas organ tunggal antar desa. Desa Bethel yang menjadi venue festival ini terletak sangat terpencil, 166 km dari pusat kota New York, Amerika Serikat. Bahkan saking terpencilnya, sang promotor Michael Lang pada tahun 1969 itu harus diterbangkan dengan helipad untuk sampai ke sana.

Pada hari pertama pembukaan festival ini nyaris tanpa keramaian yang cukup berarti. Namun siapa sangka, pemberitaan media massa yang mengangkat sudut pandang semangat liberal, anti-perang, dan kebebasan berekspresi mengenai festival ini membuat banyak generasi muda kala itu terhipnotis dan beranjak datang ke tempat terpencil itu. Alhasil, setengah juta orang meginjakkan kaki di sana selama 3 hari berturut-turut. Jumlah itu beratus kali lipat dari jumlah penduduk asli Bethel kala itu. Media massa berhasil membius mereka untuk ikut andil pada Woodstock. Media massa membentuk peradaban budaya baru di Amerika kala itu banyak mengurus perang menjadi kebakaran jenggot.

Di negara kita, saya menilai masih banyak masyarakat yang lebih memahami media massa beserta insan persnya hanya sebagai penyampai berita di radio maupun televisi. Masyarakat tidak peduli apakah informasi yang mereka dapat dari media massa itu akurat maupun tidak, benar atau salah, layak entah tidak layak. Warisan “manut-manut” Orde Baru masih menyelimuti masyarakat kita yang awam media.

Hari ini 9 Februari adalah Hari Pers Nasional, sepatutnya menjadi cermin koreksi diri oleh setiap insan pers yang ada di Indonesia, tak terkecuali bagi kami di Padangonstage.com yang bergelut dengan ranah budaya, khususnya musik. Jurnalisme musik, atau yang orang awam katakan sebagai jurnalisme hiburan, di Indonesia kenyataannya dikuasai oleh pemain-pemain dari industri hiburan. Kita tahu, industri hiburan kita ini masih berkutat pada produk-produk yang remeh, yang bukannya memajukan budaya tetapi malah membuat jalan di tempat dengan hingar bingar sensasi. Lalu yang terjadi kemudian, khalayak banyak “terpaksa” berkompromi dengan keremeh-temehan itu.

Nyatanya jurnalisme musik hanya dianggap sebagai hiburan semata. Bahkan kenyataannya bisa lebih buruk, produk-produk informasi yang dihasilkan ranah jurnalisme musik hanya sebagai muara jualan pencitraan aktor/artis/musisi/seniman. Si A bilang ini itu, jurnalisnya manut menuliskan ini itu tapi tidak mengerti pada apa yang ditulisnya. Jurnalisnya masih agak malas untuk membaca literatur di luar musik/budaya. Padahal bila dia membaca literatur-literatur di luar musik, dia pasti akan menemukan bahwa begitu banyak dimensi-dimensi dari musik ketimbang hanya soal musik itu sendiri.

Tak hanya itu, tidak sedikit pula fenomena “sambil menyelam, minum air” hadir di ranah jurnalisme musik. Pers disalahgunakan untuk sekedar bisa mendapat akses gratis ke dalam gig/konser/festival, misalnya. Berita-berita yang ditulis hanya berakhir seremonial pembayar tagihan hutang liputan untuk promotor/penyelenggara. Kalau cuma mengulas gig/konser/festival dari segi pattern 5W+1H, tidak ada bedanya dengan yang dilihat oleh orang lain yang juga menonton, bukan? Sekiranya ulasan yang terbit tidak berdasar dari satu kacamata saja, tapi juga dengan konteks-konteks lain yang bisa digali lebih jauh. Hal inilah barangkali yang membuat produk jurnalisme musik hanya sebagai bacaan lalu bagi publik.

Sangat disayangkan bila hal tersebut terus terjadi pada jurnalisme musik kita. Pers padahal memiliki peran yang paling potensial dalam membentuk pemikiran publik yang berkualitas, mengarahkan budaya yang bermanfaat untuk orang banyak. Barangkali, seorang jurnalis musik seyogyanya mengerti bahwa musik itu tidak hanya untuk elemen hiburan, tetapi juga memiliki elemen-elemen lain yang bisa dikomunikasikan, misalnya elemen sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya. Khalayak juga berhak untuk mendapat produk budaya yang berkualitas.

Oleh Aldo Fenalosa,
Pemimpin redaksi di Padangonstage.com

One thought on “Selamat Hari Pers Nasional, Para Jurnalis Musik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *