Menafsir Auman Terakhir Harimau Sumatra

Auman di Bandung Berisik 2013 (PADANGONSTAGE.COM)

((AUMAN)) di Bandung Berisik 2013

Panggung kecil di parkiran luar sudut Stadion Siliwangi itu terlihat terlalu ramai, sepertinya lebih dari seratus orang memadatinya. Sejak MC menyebut nama ((AUMAN)) untuk naik panggung, area moshpit perlahan menjadi sesak. Seingat saya, kala itu adalah kali pertama unit cadas dari Palembang ini tampil di Bandung dan di gelaran sebesar Bandung Berisik. Band pentolan Sumatra ini terbilang cepat membaur dengan skena musik underground di pusat Jawa. Padahal grup ini masih terbilang muda, berdiri pada tahun ke sepuluh di milenia kedua.

April itu adalah bulan kelima semenjak album perdana mereka yang bertajuk “Suar Marabahaya” rilis di ranah cutting edge tanah air. Sedikit banyak, ((AUMAN)) yang digawangi oleh Zarbin Sulaiman (bass), Farid Amriansyah (vokal), Aulia Effendy (drums), Erwin Wijaya (gitar) dan Ahmad Ruliansyah (gitar) mampu memberi sinyal bahwa band dari skena Sumatra juga memiliki taji untuk bermain di skena musik independen kota-kota besar pulau Jawa. Tak heran banyak yang akhirnya penasaran dengan aksi langsung para pemerhati harimau Sumatra ini.

Meski mendapat serbuan masif dari pecinta musik keras tanah Pasundan, siang itu Farid Amriansyah bersama kompatriotnya di ((AUMAN)) tampak enjoy tanpa beban dan bersemangat membuat panas terik matahari siang semakin membara. Tidak terlihat wajah-wajah lelah yang telah menempuh hampir 800 kilometer jalan darat untuk sampai ke sana. Farid, yang lebih dikenal dengan panggilan Rian Pelor, bahkan sangat eksplosif menyanyikan lagu demi lagu dari “Suar Marabahaya”.

Setengah jam durasi yang ((AUMAN)) punya di atas panggung. Tidak banyak basa-basi mereka memberikan aksi maksimal untuk memukau penonton. Seakan, mereka ingin menunjukan bahwa band dari kota jauh itu benar-benar pantas merecoki festival musik keras kebanggaan anak muda Bandung tersebut.

Thank you, kami Auman dari selatan Sumatra. Bila rezeki dan waktu bertaut kita akan bertemu kembali,” pungkas Rian menutup setlist mereka di Bandung Berisik 2013.

***

Jum’at sore, notifikasi whatsapp menumpuk masuk ke ponsel saya. Rupanya rekan-rekan di redaksi Padangonstage.com tengah ramai berkabar tentang ((AUMAN)) yang menyatakan bubar pada siang harinya. Sama seperti yang lain, saya pun tidak menyangka unit asal Palembang itu memutuskan untuk mengakhiri perjalanan mereka sebagai sebuah band. Seperti petir di siang bolong. Hilang sudah salah satu andalan skena Sumatra.

((AUMAN)) tidak hanya sebuah band yang karya-karyanya memperkaya ruang dengar penikmat rilisan-rilisan lokal. Sebagai band bermusik keras, ((AUMAN)) mempunyai ciri berbeda dengan sejumlah band lokal lain yang juga mengusung musik keras. Bila kebanyakan band cadas menyanyikan suara pemberontakan akan sistem sosial, politik, hingga budaya di dalam lagu-lagu mereka, ((AUMAN)) lebih memilih mengutamakan isu-isu kesadaran lingkungan yang menjadi cerminan kegelisahan mereka terhadap alam Sumatra.

Sejak awal kemunculan mereka, ((AUMAN)) merepresentasikan diri sebagai instrumen kampanye kepedulian pada harimau Sumatra yang populasinya diujung tanduk. Album “Suar Marabahaya” pun kental dengan artwork dan rima-rima berkandung unsur kucing besar itu. Tidak putus sampai di situ, unit ini juga rutin berbagi wawasan mengenai isu-isu lingkungan melalui akun twitter mereka. Biasanya sebuah band mengakomodir twitter untuk ajang promosi karya, merchandise, hingga jadwal manggung, ((AUMAN)) beberapa langkah lebih aktif untuk mengajak followers mereka sedikit paham dengan kondisi lingkungan saat ini. Bahkan wong kito galo ini juga mendeklarasikan pendonasian sebagian hasil komersil karya-karya mereka untuk sejumlah organisasi lingkungan.

Di sisi lain, kehadiran ((AUMAN)) di skena nasional ibarat kisah David dan Goliath. Selama ini, termasuk langka band dari luar skena pulau Jawa yang berhasil di sana. Komunal dan Rajasinga pun harus bertransformasi dan bermigrasi ke pulau Jawa demi kelanjutan eksistensi mereka.

Datang dari skena luar Jawa, ((AUMAN)) berhasil mematahkan ketakutan akan persepsi tersebut. Band ini terbilang cukup berhasil menancapkan cakar mereka di skena pulau Jawa tanpa harus beranjak dari skena asal mereka di Palembang. Bahkan Rian cs juga ikut berkontribusi membesarkan skena mereka untuk lebih dikenal ke luar Palembang. GERRAM dan BLACK//HAWK merupakan beberapa diantara yang ada di skena tersebut, mulai mendapat perhatian oleh penikmat luar bumi Sriwijaya.

Namun, ((AUMAN)) si “David” kecil rupanya juga harus berhadapan dengan seleksi alam dimana yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya lama kelamaan akan punah. Rian dan para sejawatnya di dalam unit tersebut akhirnya memilih adaptasi dengan cara mereka sendiri, yaitu membubarkan band itu sendiri.

Meskipun bubar, ((AUMAN)) tidak serta merta punah dari skena musik lokal kita. Mereka, seperti diutarakan pada press release yang terbit di aumanrimau.wordpress.com hari Jum’at (20/2) lalu, berevolusi menjadi Rimauman Music, sebuah label rekaman mandiri yang akan meneruskan perjuangan ((AUMAN)) di skena Palembang hingga luarnya. Semangat “David versus Goliath” inilah yang sepatutnya kita tangkap dari grup tersebut. Sekali lagi, mereka hanya menegaskan bahwa tidak ada yang tidak mungkin, termasuk menembus batas kreasi dan lokalitas.

Oleh Aldo Fenalosa,
Pemimpin Redaksi di Padangonstage.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *