Musik, Politik, Hingga Selera Perut a la EFEK RUMAH KACA

“Pasar bisa diciptakan” adalah kalimat yang begitu melekat dengan band Ibu Kota bernama Efek Rumah Kaca (ERK). Realitanya, kalimat itu bukan hanya rangkaian kata tanpa makna semata. Sebab, meski beberapa waktu sempat vakum temporer karena Cholil sang vokalis menimba ilmu ke Amerika Serikat, band ini tetap hidup dan semakin kuat “pangsa” pasarnya.

Di bulan Juni 2015, untuk pertama kalinya band ini kembali bermain bertiga bersama Cholil (Gitar/Vokal), Poppy (Additional Bass), dan Akbar (Drum). Cholil kala itu baru saja kembali dari negeri Paman Sam. Dan tempat pertama mereka bereuni kecil adalah di kota Padang, dalam gig bertajuk Chillin in the Garden. Sebelum naik panggung, mereka pun menyempatkan berbagi cerita setelah lama vakum, bocoran untuk album terbaru, hingga hal-hal menarik tentang musik indie dan rekomendasi album-album bagus menurut kacamata masing-masing personel bersama tim Padangonstage.com, Sabtu (13/6). (teks oleh Rifki Hardian Pasi/PADANGONSTAGE.COM)

Trio Efek Rumah Kaca sesaat sebelum tampil di gig bertajuk Chillin in the Garden, Padang, Sabtu (13/6/2015) malam. (foto oleh Varize Yudhistira/PADANGONSTAGE.COM

Trio Efek Rumah Kaca sesaat sebelum tampil di gig bertajuk Chillin in the Garden, Padang, Sabtu (13/6/2015) malam. (foto oleh Varize Yudhistira/PADANGONSTAGE.COM)

Akhirnya ERK kembali lagi dengan format penuh seperti biasanya dan tampil di kota Padang. Bisa ceritakan dalam rangka apa Cholil kembali ke Indonesia dan melengkapi formasi ERK?

Akbar: Kemarin kita sempat vakum lebih kurang satu setengah tahun karna Cholil ngelanjutin studinya ke Amerika. Tapi kita tetap tampil kok dengan format Pandai Besi. Sempat bikin album juga. Nah, ini kebetulan Cholil udah balik dari selesai studinya dan kita diundang di Padang. Ini pertama kalinya kita tampil setelah lama vakum. Pandai Besi masih jalan, tapi yang di acara ini diundang Efek Rumah Kacanya, ya jadi kita tampil dengan format ERK.

Setelah beberapa lama menuntut ilmu di Amerika, adakah sesuatu yang baru atau perubahan apakah yang ada di benak Cholil, khususnya untuk ERK sendiri?

Cholil: Nggak ada sih, secara konsep nggak ada. Sekarang sih pengennya menyelesaikan album ketiga aja. Waktu gue mau pergi itu kita masih ngerjain album ketiga. Selama gue pergi kemaren kan jadi terbengkalai. Jadi tahun ini pengen beresin aja sampai kelar. Semoga.

Sejauh mana sih pengerjaan album baru ERK?

Cholil: Jaauuhhhh… hehe.

Akbar: Wooo udah jauh banget lah… Hehe. Tinggal track vokal aja sih.

Seperti dua album sebelumnya, yaitu album pertama Kamar Gelap (2007) dan album kedua Efek Rumah Kaca (2009), kira-kira album ketiga bakal seperti apa?

Cholil: Di album ketiga ini mungkin banyak musiknya, lebih musikal lah dibanding yang lalu-lalu. Lebih straight forward dan komposisi musiknya lebih banyak. Lagunya kita sambung-sambung, ada yang dua lagu didempetin jadi satu, bahkan ada yang tiga lagu jadi satu. Durasinya lebih panjang. Ada yang lagunya delapan menit, sepuluh menit, sampai empat belas menit juga ada.

Hal yang paling disenangi ERK tentang crowd itu apa? Apakah saat penonton terpersona melihat ERK tampil atau saat sing along misalnya?

Cholil: Saweran yah, saweran gitu… Hahaha.

Akbar: Iya tuh lumayan lho hasilnya… Hahaha. Enggak sih kita belum pernah kok. Yang paling seneng itu saat penonton stay merhatiin kita dari awal sampai habis. Saat penonton datang ke acara buat nyimak musik kita. Terus kalo bisa juga nyimak band-band yang lainnya sebelum kita. Jangan pas kita doang ramenya, soalnya yang lain banyak yang keren-keren. Terus jangan rusuh lah. Hehehe.

Gimana nih perasaan ERK saat tampil di tempat baru, seperti kali pertama ke Padang?

Cholil: Pergi kemanapun kita maunya explore sih. Kalo di Padang misalnya, maunya nyobain nasi Padang terus jalan-jalan.

Akbar: Iya, sayangnya cuma sehari di sini. Kalo punya waktu tiga hari kan kita bisa kelilingin semua. Lain waktu kali ya, semoga bisa diundang lagi. Hehe.

Dalam track “Di Udara” dan “Hilang”, ERK sangat konsisten membicarakan tentang isu HAM yang terjadi di Indonesia. Melihat perkembangannya hingga sekarang bagaimana pendapat ERK tentang kebijakan pemerintah menangani masalah ini?

Cholil: Kalo melihat dari progresnya sendiri sih nggak terlalu signifikanlah. Kita berharap dari Jokowi kan karena ia nggak punya dosa bawaan. Katakanlah ia nggak berasal dari institusi atau lembaga yang bermasalah. Tapi pada kenyataannya beliau belum bisa menangani masalah ini. Gimana kedepannya kita lihat nantilah, mungkin tetap bakal usaha ya. Menangani masalah HAM masa lampau pun perkembangannya tidak secepat yang kita bayangkanlah. Walaupun ada yang bilang kedepannya akan ada rekonsiliasi. Tapi upaya yang kayak di Papua jurnalisnya sekarang udah bisa masuk, itu sekarang udah agak mendinganlah. Sebelumnya mahasiswanya kan ditembak-tembakin di Papua.

Secara jelas, unsur-unsur politik sangat kental di karya-karya ERK. Melihat situasi politik Indonesia sekarang ini apakah untuk selanjutnya ERK akan tetap konsisten dengan hal tersebut?

Cholil: Garis besarnya sih seharusnya masih. Tapi kalo kedepannya banget kita nggak taulah. Kali aja ada pesanan dan gue lagi butuh uang gitu. Hehehe. Kita berharap tetap ideal, tapi seandainya situasi nggak memungkinkan ya kita nggak taulah. Gue nggak mau mendahului segala sesuatu, pokoknya kita jalani aja yang sekarang. Album ketiga sih nggak bakal jauh beda dari yang sebelumnya. Secara tema ya udah ketemu, tapi kalo konsepnya sendiri belum sih.

ERK terus bertahan hingga sekarang. Apalagi di tengah gencaran band-band komersil, ERK tetap di jalur indie.

Cholil: Kuncinya cuma satu, konsisten. Hehe.

Apa pentingnya dilabeli band indie ataupun band mainstream bagi ERK sendiri?

Cholil: Bagi kita itu nggak penting. Mau ada orang yang bilang kita mainstream pun itu nggak masalah bagi kita. Kita kan nggak bisa nge-drive isi kepala orang. Jadi bebas aja mereka punya persepsi apa tentang kita.

Ada musisi atau penyanyi mainstream/major lokal favorit?

Cholil: Wah banyak…, misalnya Guruh Gipsy, tapi gue band-band lama lah ya. Nggak taulah kalo band sekarang. Kalo band sekarang Naif lah ya. Netral lama tuh juga bagus-bagus.

Poppy: Naif lah ya, atau Sore, eh tapi itu nggak mainstream juga sih… Hehe.

Akbar: Kalo gue Potret, yang lama sih tapi. Banyak sih yang lama-lama yang perlu dieksplor.

Saat tur atau tampil di luar kota, apa kebiasaan aneh para personil ERK? Siapa yang paling aneh?

Akbar: Kita paling nyampe hotel tidur, kita soalnya masih normal lah ya orangnya. Hehe.

Cholil: Nggak ada yang aneh sih, kita masih wajar-wajar aja. Tidur termasuk kebiasaan aneh nggak sih? Hehe. Paling nyampe venue kita sound check, kalo nggak ada sound check ya kita tidur.

Hal apa yang pertama kali teringat saat mendengar nama Padang?

Cholil: Kita di sini semuanya juga crew itu pencinta nasi Padang, kecuali Poppy karena dia vegan. Tadi kesana kemari nyari nasi padang tapi dimana-dimana abis mungkin udah malem. Mungkin nanti kita cari ya. Kalo denger kata Padang gue jadi inget film Warkop DKI…

Poppy: Hahaha… Robert Charles Chaniago Hahaha..

Akbar: Nah, iya, kami jadi inget Robert Charles Chaniago. Hehehe.

Cholil: Tadi di jalan mau ke sini, ada chaniago-chaniago gitu. Jadi kami langsung inget Robert Charles Chaniago yang di film warkop DKI itu.

Musik apa yang sering didengar masing-masing personil ERK akhir-akhir ini? Atau berikan rekomendasi sebuah album musik yang bagus bagi ERK untuk pembaca POS!

Cholil: Kita bertiga lagi dengerin Souvenir Pemilu 1971 sih. Lagi ngulik-ngulik juga. Haha. Di sana beda-bedalah musiknya. Ada Bing Slamet juga. Gue akhir-akhir ini lagi seneng lokal sih. Bin Idris juga bagus tuh, band nya yang dulu Sigmun.

Poppy: Album Sore yang baru tuh bagus. Terus kalo mau eksplor yang lama-lama bisa nyari album Jurang Pemisah (Yocki feat. Chrisye) tahun 1978. Itu album keren banget.

Akbar: Mondo Gascaro, ex-keyboardistnya Sore. Ben Idris juga bagus. Akhir-akhir ini pada seneng dengerin lokal sih.

Tips seperti apa yang ingin dibagi untuk penikmat musik dan penggelut musik di skena indie kota Padang?

Akbar: Ya itu tadi, konsisten. Banyak hal yang bisa kita bicarain dari musik. Orang mau ngomongin topik apapun, sebenernya kalo kita mau memperdalam di musik semuanya udah ada di sana. Mungkin kita tinggal eksplor kali ya. Kalo ngomongin musik banyak bangetlah yang bisa kita gali dari sana.

Cholil: Terus internet. Media sosial sangat membantu untuk kalian bisa memperkenalkan musik kalian lebih jauh. Kita bisa dapet jaringan. Kalo buat band, internet ini kan sangat mempersingkat jalur distribusi. Itu sih kuncinya kalo band-band indie di sini mau dikenalkan keluar.

Poppy: Tetap eksplor lebih jauh lagi. Banyak berkarya dan terus menggali lebih jauh lagi.

*Belakangan, per 17 Desember 2015  ERK resmi merilis album teranyar bertajuk Sinestesia melalui iTunes.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *