Lima Album Lokal Yang Meneduhkan Hati

Setelah Payung Teduh meraih kesuksesan melalui album “Dunia Batas” sebagai album terbaik tahun 2012 versi majalah Tempo, genre indie-folk menjadi favorit tersediri dikalangan anak muda. Penikmat yang meningkat bersambut dengan bermunculan grup musik dengan nafas aliran serupa seperti Dialog Dini Hari, dan Pygmy Marmoset dari Pulau Bali, Silampukau dari Kota Surabaya, Deugalih & Folks, dan Tigapagi dari Kota Bandung. Tren ini terus berlanjut hingga kini memasuki akhir tahun 2015. Berikut kami buat daftar pendek 5 (lima) album musisi lokal yang mampu meneduhkan hati pembaca sekalian.

Banda Neira – Berjalan Lebih Jauh (2013 – Sorge Records)

Dari 5 pengisi daftar ini, album milik Banda Neira ini memang telah rilis 2 tahun lalu. Tapi duo Ananda Badudu dan Rara Sekar adalah nan rilisan paling tegas. Sebagaimana genre folk disuarakan oleh pendahulunya seperti Bob Dylan dan Joan Baez, mereka pun tak kalah lantang menyerukan semangat aktivisme, simak saja lagu penutup “Rindu” dan “Mawar”. Meski masih ada tembang cantik seperti “Di Atas Kapal Kertas”, “Hujan di Mimpi”, dan “Senja di Jakarta”. Twitter: @diBandaNeira

Fourtwnty – Lelaku (2015 –) 

Sore hari ditemani secangkir teh hangat akan sempurna dengan debut album milik Fourtwnty. Vokal nasal Ari Lesmana bersama iringan minimalis Nuwi dan Akar akan menghangatkan hati yang gundah. Dengarkan saja “Aku Tenang”, “Argumentasi Dimensi” hingga “Diskusi Senja”. Racikan folk minimalis trio ini mampu membawa anda pada pengalaman tersendiri. Twitter: @fourtwntymusic

Stars And Rabbit – Constellation (2015 – Green Island Music)

Stars and Rabbit, photo by Hendriyanti

Stars and Rabbit, photo by Hendriyanti

Suara vokal Elda Suryani sudah tak asing bagi telinga penikmat musik di Indonesia sebenarnya, bersama di Widodo ia membentuk Stars and Rabbit. Memberikan sensasi baru untuk menikmati vokal Elda nan unik. Album debut ini memang sudah dinantikan, tak perlu lama, mereka telah menuntaskan tur di Pulau Jawa dan ke Negeri Tirai Bambu. “Like it Here”, “Worth It” dan “Old Man Finger” mampu berinteraksi secara magis, dengarkan saja dengan seksama. Twitter: @starsandrabbit

Marco Marche – Warm House (2015 – deMajors)

Secara sekilas memang sampul debut album duet Asterina Anggraini dan Duta Pamungkas ini bergaya rock n roll. Tapi setelah mendengar track pembuka “A Song Of Us” anda takkan mampu beranjak mendengarkan harmonisasi lembut vokal mereka dengan iringan gitar akustik. Mereka dapat mengalun pelan pada “Warm House”, bergerak manja di “Special Lovely Way”, serta menjadi sendu pada “Senja dan Mentari”. Twitter: @MarcoMarche

Westjamnation – Westjamnation (2015 – deMajors)

Trio asal Jawa Barat ini tidak sepenuhnya indie-folk. Mini album debut grup yang digawangi Kudit, Rifki, dan Jati tersebut bahkan dibuka dengan track “Disini” yang bernafas blues. Namun tembang berikutnya seperti “Love Bus”, “Holiday”, dan “Dont You Know” memiliki sentuhan manis folk lengkap dengan instrumen tambahan seperti flute dan saxophone. Twitter: @Westjamnation

*Teks kontribusi oleh Noverdy Putra, penggagas jaringan distribusi bernama SILAKELANA. CD rilisan diatas telah dapat dimiliki melalui jaringan Silakelana Distribusi di Rimbun Coffee Espresso and Brew Bar Padang (Jl KIS Mangunsarkoro A-10) dan Bukittinggi (Jl A Yani No 122).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *