Twinshock Bicara Skena Pop Punk Padang

Setelah di awal tahun ada Hurt yang bertamu dan mencicipi panggung skena pulau Jawa, unit pop punk asal kota Padang, Twinshock, juga akan bertandang ke pulau Jawa untuk tampil dalam pesta rilis Maxim Music Compilation di Depok pada Sabtu (27/02/2016) dan Karawang Cloth Fest di Karawang pada Kamis (03/03/2016). Khusus dalam Maxim Music Compilation, band yang beranggotakan Oktaf (bass/vokal), M.Fadillah (gitar), Rizky Rahmad (gitar) dan M. Reza Kurnia (drum) ini tak hanya mengisi aksi di panggung. Mereka juga menjadi salah satu pengisi track dalam album Maxim Music Compilation Vol. 1 yang merupakan kompilasi karya band pop punk di Indonesia. Sejumlah band seperti Pee Wee Gaskins, Jakarta Bomblast, serta More and Less juga ambil bagian dalam album ini.

Twinshock (foto oleh Muhammad Ilham/PADANGONSTAGE.COM

Twinshock (foto oleh Muhammad Ilham/PADANGONSTAGE.COM)

Pada Padangonstage.com, empat sekawan ini bercerita tentang bagaimana mereka bisa berpartisipasi dalam gelaran tersebut, juga hal-hal menarik tentang musik pop punk.

Bagaimana prosesnya Twinshock bisa ambil bagian dalam Maxim Compilation itu?

Sedikit banyak ini berkat dorongan dan semangat dari teman-teman yang support kami. Ibal dari Awareness dan bang Eno Pumpkins membantu Twinshock agar dibukakan jalan. Banyak banget yang support kita hingga diajak oleh teman-teman yang juga mengorganisir kompilasi ini, mulai dari Allan More and Less dan Dipa Long Live The Queen. Hehehe.

Intinya support dan jaringan gitu ya.. Lalu menurut Twinshock apa sih yang dibutuhin anak band biar lebih maju?

Sebenarnya yang dibutuhkan bukan sekedar bikin single atau album aja, tapi gimana caranya agar kita punya jaringan lebih banyak dan akhirnya kita bisa ikut juga di event-event besar lokal juga di luar kota. Dan intinya seperti yang kami rasakan, support dari teman-teman itu yang paling penting.

Bagaimana perkembangan musik pop punk di skena lokal Padang menurut Twinshock?

Pop punk di Padang ada tapi belum banyak berkembang sih, mungkin karena banyak band yang udah pioneer-nya tapi sekarang udah tidak aktif lagi. Terus juga gig spesifik buat genre musik yang seperti gini juga masih kurang sih.

Lalu kira-kira ke depannya bisa maju tidak sih? Apa kendalanya yang paling mengganggu menurut kalian?

Bisa banget maju. Menurut kami kendala terbesarnya mungkin masalah dukungan satu sama lain di antara pelaku musik dan juga skena. Yang paling penting tidak ada lagi semacam rasis satu sama lain antar band dan genre. Terus juga konsistennya event di Padang, semoga bisa lebih ramai lagi gig-nya. Hal-hal kecil seperti kecurangan atau nepotisme di dalam gig juga, kalau bisa semua band dalam gig itu on time semua pas acara. Dimulai dari hal-hal kecil itu dan kami yakin Padang bisa maju.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *