Menyambut Record Store Day: Record That Changed Your Life

Masih dalam rangka menyambut perayaan Record Store Day di Kota Padang, kami mencoba membuka diskusi dan berbagi perbendaharaan record yang tergolong cukup mempengaruhi kehidupan pribadi kami. Semoga kamu juga tak sungkan ikut berbagi record that changed your life dengan kami melalui kolom komentar yang disediakan. Because music is more fun when it’s shared with other people

VARIOUS ARTIST – NEW GENERATION CALLING (SPILLS RECORDS/ALFA RECORDS – 2003)

Oleh Noverdy Putra, penggagas Silakelana

Meski dalam ingatan samar, saya berusaha terus menggali ingatan tentang album rekaman yang mengubah hidup saya. Dan ingatan membawa saya kembali ke tahun 2003, saya hendak berganti celana seragam biru ke warna abu-abu. Kala itu saya berlibur sembari mengunjungi saudara ke kota perbatasan provinsi Sumatera Barat dan Jambi, Muaro Bungo. Saat itu sendiri saya telah mulai mendengarkan varian musik dari tren pop-boyband hingga hingar bingar metal.

Membunuh bosan selama di sana, saya berjalan menjelajahi pasar kota lintas tersebut dan menemukan toko kaset. Mata saya langsung tertuju pada barisan rak teratas yang menghadap ke jalan, dimana terdapat sebuah kaset dengan judul “New Generation Calling”. Ketika meminta izin untuk melihat kaset tersebut saya baru sadar ini adalah sebuah album kompilasi. Band yang mengisi pun hanya dua yang saya tahu karena pernah muncul di MTV.

Saya tak ragu membeli meski harus menunggu tiga hari kemudian untuk mendengarkan album tersebut. Saya menunggu hingga kembali dari liburan agar lebih khusyuk menikmati. Pengisi kompilasi itu beberapa telah tak tentu dimana rimbanya, beberapa lagi semakin berkibar. Mereka adalah The Miskins, Superman Is Dead, The Bahamas, Rocket Rockers, Boys Are Toys, Disconnected, Close Head, Shaggy Dog, Nudist Island, Teenage Death Stars, Kebunku, dan Jolly Jumper. Dari pengisi kompilasi ini kamu percaya kan album ini mengubah hidup saya?

VARIOUS ARTIST – OST JANJI JONI (AKSARA RECORDS – 2005)

Oleh Aldo Fenalosa, penggagas Padang On Stage

Sungguh diberkati film Janji Joni dan seluruh orang yang terlibat dalam proses kreatif karya tersebut. Tidak hanya meninggalkan kesan visual yang khas, kumpulan lagu pengisi film juga menjadi salah satu treasure tersendiri – setidaknya, bagi diri saya sendiri yang kala itu masih remaja. Asupan musik yang sungguh selaras dalam setiap babak film itu mudah melekat dan terngiang-ngiang di telinga hingga melekat di otak.

Padahal kala tahun 2005 itu, saya tidak tahu apa itu The Adams, Teenage Death Star, White Shoes & The Couples Company dan belasan band lain, yang di-arrange oleh (alm) Aksara Records ke dalam sebuah album bertajuk Original Soundtrack Janji Joni. Dapat dikatakan, album ini adalah stimuli awal saya untuk mengenal bandband arus pinggir di pulau seberang (tentunya menggunakan media warnet pada masa itu karena kealpaan toko kaset di Padang). Setelahnya, perbendaharaan band arus pinggir dalam playlist komputer semakin bervariasi. Pun pada koleksi rilisan fisik. Sejumlah rilisan kaset dan CD baru mengisi laci koleksi musik remaja saya yang sebelumnya hanya ada Sheila On 7.

SORE – CENTRALISMO (AKSARA RECORDS – 2005)

Oleh Indira Listiarini, penggagas Padang On Stage

Saya tak seperti mereka yang sejak duduk di bangku sekolah sudah mengenal skena musik independen. Atau bisa dikatakan sesungguhnya saya sangat buta akan musik independen hingga bangku SMA. Yang saya ingat ketika semasa SMA adalah mantan kekasih dan teman-teman saya mengajak untuk menonton Pee Wee Gaskin di pensi SMA Pembangunan Jaya, Bintaro atau menonton Seringai (seingat saya) di pensi SMA Al-Azhar BSD, Tangerang Selatan. Di tengah banyaknya nama-nama band independen lokal yang telah naik daun kala itu, saya tetap menutup diri, tidak menyimak secara khusus, dan hanya memanfaatkan pensi sebagai ajang nongkrong bersama mantan kekasih dan teman-teman.

Namun ada satu yang benar-benar membekas di ingatan saya. Dua sahabat dekat, sekaligus mantan kekasih saya saat SMA sedang sibuk dengan komputer mendengarkan SORE. “Dir, ayok kita nge-band bikin lagu-lagu kayak ini,” ucap teman saya Arina seraya Somos Libres oleh SORE terdengar dari speaker komputer. Setelah saya tilik lagi di youtube, rupanya video Somos Libres itu telah tayang sejak sembilan tahun lalu, tahun 2007. Saya mendengarkannya untuk pertama kali di tahun 2008. Cukup lama, ya…

Lagu itu selalu terngiang di kepala, bahkan tak jarang saat kelas berlangsung saya melantunkan lirik Somos Libres. Tak jarang juga saya dan Arina memasang lagu itu cukup keras, bernyanyi bersama, bahkan menari. Setelahnya saya mulai menilik album Centralismo oleh SORE. No Fruits For Today jelas jadi favorit terutama liriknya “I love you and you love me, we’re gonna make a big family”. Mata Berdebu juga jadi favorit, saya lantunkan berulang-ulang. Dan sepanjang masa SMA saya, SORE terus menemani. Hingga bangku kuliah dan mulai mengeksplorasi band independen Indonesia dan berbagai negara. Dan hingga kini, ketika artikel ini saya tulis di kantor. #nowplaying SORE – Ssst…

MINOR THREAT – OUT OF STEP (DISCHORD RECORDS – 1983)

Oleh Jerry Eka Permana, Account Manager Padang On Stage

Sebelas tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk berhenti menghisap tembakau dan menenggak alkohol, album inilah yang membantu saya untuk tetap kuat bertahan. Begitu juga ketika saya mulai berjuang untuk menjadi vegetarian, album ini menjadi teman sejati. So maybe if someday I become vegan, it’s because of this album.

RANCID – INDESTRUCTIBLE (HELLCAT RECORDS – 2003)

Oleh Hebiet Gusta Harike, Creative Director Padang On Stage

Album apa yang didengarkan saat kepala seolah terasa lebih rendah dari telapak kaki? Album yang diputar ketika tubuh dirasa melayang tinggi seakan awanpun mampu digapai? Album yang dibisikkan melalui earphone tatkala dada menyesak seolah sekepal tangan meremas dari dalam dengan cengkeraman frontal tak berampun? Album yang didengungkan bagaikan bunyi klakson panjang pembuyar lamunan dari mobil dan motor yang berjejer di belakang, meracau menyuruh untuk segera menginjak pedal gas sebab traffic light sudah menunjukkan lampu hijau sejak dua detik sebelumnya?

Album yang dikumandangkan kala pikiran destrusktif tengah menggerogoti, serasa makhluk fantasi bernama Hulk sedang merasuk dalam jiwa? Album yang diteriakkan sekencangnya melalui speaker saat bersama sejawat serempak mengangkat gelas, seraya berseru “Cheers!”, tak penting isi gelasnya minuman fermentasi, teh manis, atau kosong sekalipun?

Pada dasarnya saya tak punya album yang secara langsung berkontribusi mengubah gaya/jalan hidup. Tapi sekiranya album ini yang paling mendekati secara tidak langsung dan cukup sering mendampingi, sedari fase pubertas, masa memakai seragam putih abu-abu, hingga sekarang saat tulisan ini dibuat. Oi!

VARIOUS ARTIST – OST The Warriors (A&M RECORDS – 1979)

Oleh Addil Anara, Junior Editor Padang On Stage

Rekaman yang menjadi junjungan hakiki. Komposisi nomor lagu yang memacu adrenalin dari sentuhan Barry De Vorzon, Joe Walsh, dan kawan-kawannya. Sudah terbukti meningkatkan kepercayaan diri dari zaman sekolah sampai sekarang. Esensial. Terlebih pada track favorit berjudul Baseball Furies Chase yang dibawakan Barry De Vorzon.

BON IVER – FOR EMMA, FOREVER AGO (JAGJAGUWAR RECORDS – 2007)

Oleh Kiky Ersya, jurnalis Padang On Stage

Beberapa hari terakhir saya sibuk memikirkan sebuah pertanyaan ini, what is record that change my life? Dan saya pun serasa dibawa kembali pada masa-masa awal perkuliahan saya, “For Emma, Forever Ago” milik Bond Iver (2007).

Album ini saya pilih karena musik yang mereka hadirkan membawa saya pada sisi lain diri saya ketika mendengarkannya, mereka bener benar mewakilkan apa yang saya pikirkan dan menghadirkannya dalam nada-nada yang megah dan membuat saya semakin tertarik dengan musik folk.

JULIO IGLESIAS – HEY (SONY MUSIC LATIN RECORDS – 1980)

Oleh Diofanil Fajrian Zaza, jurnalis Padang On Stage

Sebuah pita kaset dari Julio Iglesias bertitel “Hey” benar-benar menyapa kuping saya yang waktu itu berumur tiga tahun. Bisa dikatakan, Julio Iglesias turut ambil bagian dalam proses awal saya menyukai musik. Bernyanyi bersama ayah saya dengan lagu ini benar-benar menjadi sebuah kesenangan pada saat itu, walaupun saya tidak tau persis bagaimana liriknya. Sampai sekarang, sesekali saya memutarkan lagu ini dan bernyanyi dengan ayah saya. Dari hal ini membuat saya menyadari bahwa dengan musik, ingatan dan orang-orang berarti dalam hidup tidak pernah tua oleh waktu.

STICK TO YOUR GUNS – DIAMOND (SUMERIAN RECORDS – 2012)

Oleh Varize Yudhistira, fotografer Padang On Stage

Ada banyak album yang menginspirasi saya, dan rata-rata kebetulan datang dari karya bernuansa hardcore, seperti The Ghost Inside yang album Dear Youth (2012) dan Get What You Give (2014), atau The Golden Age (2012) milik Your Demise, One With the Underdogs (2004) dari Terror.

Tetapi album Diamond (decade edition) dari Stick to Your Guns adalah yang berposisi di paling atas bagi saya. Album ini secara kebetulan bercerita tentang isi kehidupan yang mirip dengan kehidupan saya. Sangat inspiratif dan memiliki makna yang kuat dan pekat dengan sejumlah kejadian dalam hidup. Saat sedang down, album ini juga menjadi sandaran dan mood booster bagi saya. #hardcorepride

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *