Tatanan Kompleksitas ala Parasite Of Human Side

“It’s a smart combine sweet neo-classical musics, complex riffs, progressive tempos, and dynamic tones in Death Metal music.”—Medis Setyadi, Mianydoire

“Complex, ferocious, and calming harmonization.” —Setiawan Anung, Crown of Rage

Cover album band Parasite of Human Side

Cover album band Parasite of Human Side

Constellations, diskografi teranyar unit technical death metal, Parasite of Human Side (POHS), secara resmi dirilis pada akhir Januari 2016. Diskografi berbentuk mini-album ini memang sudah lama dinanti-nantikan oleh sejumlah penikmat musik keras Indonesia, setidaknya sejak pertengahan tahun 2015 saat desas-desus perilisannya mulai menyebar. Jebolan skena Padang Death Metal itu memublikasikan Constellations di bawah bendera Eastbreath Records, record label asal Bandung.

Sebelumnya, POHS sempat menyebarluaskan kepingan-kepingan nomor yang direkam pada rentang tahun 2011 sampai 2013 dalam sebuah demo-album. Sejak melepas nomor perdana, Deviation of Inscrutable Things (2011), warna yang ditawarkan oleh Indra, dkk memang tidak banyak mengalami perubahan.

Constellations merupakan representasi konkret tipikal permainan Romelio (vokal, gitar), Ferdinand (gitar), dan Indra (bass) yang mengusung musik beritme dinamis, permainan nada-nada diatonik cerdas, serta dibaluti riff-riff berstruktur kompleks dan matematis yang berhasil diharmonisasikan dengan sentuhan orkestra neoklasik, namun tetap terdengar romantis.

Mendengar Constellations, kamu dibuat seakan menyimak permainan antara Obscura, Necrophagist, dan Fleshgod Apocalypse, yang berkolaborasi dengan notasi nada dari J. S. Bach Beethoven hingga Mozart. Perihal itu dapat dibuktikan pada repertoar yang tersaji di dalamnya.

Nomor pertama dibuka dengan hidangan Orbital Calling, nomor bertempo sedang sebagai gelagat bahwa pergolakan kompleksitas akan segera dimulai; permulaan yang membumi. Maka kebuasan duo gitaris POHS terdengar kentara ketika memasuki Constellations dan Ancient Depiction of Sun. Di kedua nomor ini, Romelio dan Ferdinand “memilin” instrumen rumit secara rapi tanpa sering mengulang-ulang bagian. Membabi buta, namun tetap harmonis.

Sementara itu, Obsolescence Serenadekonon merupakan klimaks kebengisan POHS di album inimereka simpan di nomor keempat. Permainan gitar solo yang intens dalam durasi panjang, membuat pendengar sulit mencerna nomor ini hanya dalam beberapa kali putar. Dan, untuk menegaskan nuansa darkness orchestra-nya, POHS menempatkan Majestical Emergence sebagai pamungkas sekaligus antiklimaks pada rilisan berdurasi total 23 menit-22 detik ini.

Seluruh komposisi musik maupun lirik dalam mini-album ini digubah kolektif oleh segenap personel. Sementara itu, menyoal proses recording, mixing, hingga mastering POHS memercayakan kepada Cimay Ardana, sedangkan untuk pengerjaan sampul, Aghy Purakusuma ditunjuk sebagai illustrator.

Kehadiran Constellations tentunya menjadi angin segar sebagai penanda produktivitas skena death metal lokal. Di samping itu, rilisan ini diharapkan dapat menginspirasi sekaligus memotivasi para pegiat musik keras kota Padang lain agar terus berkarya dan mengejawantahkan dalam bentuk fisik.

“Dampaknya ya bermacam-macam, ibarat hidup ada hitam dan ada putih. Tapi bagi saya pribadi, album POHS menjadi cambukan agar lebih serius menghasilkan karya dan saya yakin tahun ini band-band Sumbar, khususnya dari skena metal, akan banyak mengeluarkan album, sebelumnya kan ada Tahanan Neraka. Kalau mereka bisa, mengapa yang lain enggak? ucap Kevin Anggriawan, bassis Disaster ov Satan, kepada saya, Kamis (20/4/16), mengenai album ini.

Akhirnya, tak perlu banyak basa-basi untuk memiliki salah satu rilisan death metal terbaik di tahun ini. Album yang mampu membius dan membuat pendengarnya berkonsentrasi tinggi menyimak setiap nomornya. Bagi kamu para maniak death metal, mini-album ini adalah rekomendasi wajib, baik itu sebagai bentuk apresiasi, dukungan nyata terhadap pergerakan skena lokal, maupun sekadar menjadi collectible item di lemari pajangan. Selamat mendengarkan!

*Teks kontribusi dari Ahmad Hamidi, pernah aktif di HammunZine dan dapat ditemui pada jejaring Instagram @hammitius

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *