Q&A: Jimi Multhazam

Bila ada personel band yang begitu eksentrik dan lekat dalam ingatan, Jimi Multhazam dipastikan masuk ke dalam daftarnya. Namanya mulai populer ketika menjadi pembesut mikrofon di The Upstairs, band yang pernah memiliki predikat sebagai “Raja Pensi”. Barang tentu tak ada yang meragukan kualitas Jimi Multhazam dalam menghipnotis penonton, baik sebagai MC maupun “kuli” vokal di grup musiknya. Gelontoran kata yang dikomunikasikannya di atas panggung acapkali membuat orang tergelak tawa dan membangun suasana panggung yang menyenangkan. Pada bulan Maret lalu, di sela-sela konser mini perayaan 12 tahun Matraman di Jakarta, pria berdarah Minang ini berbincang dengan Padang On Stage tentang The Upstairs dan profesi MC dalam dunianya.

Artikel Q&A bersama Jimi Multhazam dalam #POSzine edisi Juni 2016 (Foto oleh Indira Listiarini/PADANGONSTAGE.COM)

Artikel Q&A bersama Jimi Multhazam dalam #POSzine edisi Juni 2016 (Foto oleh Indira Listiarini/PADANGONSTAGE.COM)

Apakah tahun 2016 akan menjadi tahunnya The Upstairs?

Saya sih cukup spontan sih ya. (perayaan) 12 Tahun Matraman ini juga (direncanakan) bulan Januari kemarin tiba-tiba, “bikin nih!”. Kalo untuk album Matraman ini emang niat untuk reissue karena saya lihat orang-orang masih banyak mencarinya. Sebenarnya saya juga berkaca pada album-album yang saya idolakan, tapi malah sulit buat didapetin. Jadi kita semacam pergerakan melestarikan album sendiri gitu. Hahaha

Umur album “Matraman” udah seumur remaja tanggung nih om Jimi, album “anthemic” ini energinya apakah masih sama dari dulu sampai sekarang?

Di panggung tadi saya menunjuk teman-teman yang masih liar-liarnya. Mereka sudah dengar lagu The Upstairs dari SMA, bahkan dari SD. Mereka dengar lagu-lagu kita dari abang-abang mereka. Saya dulu juga kurang lebih seperti itu, kalau dulu kakak dan abang yang bawa kerumah, “nih album bagus”. Jadi album antik sih. Intinya lagu The Upstairs ini easy listening, tidak dengan chord-chord rumit. Siapapun bisa menerima ini.

Apa yang spesial dari formasi baru The Upstairs?

Nah ini lucu nih! Tiba-tiba kita harus nyari bassist baru nih. Bassist yang memang udah jago dan tidak masalah sama karakter yang beda. Kita ketemu Veli, pemain jazz fussion yang belum pernah kena punk sama sekali, tapi dia bisa kasih groove. Rebecca dulu pernah ikut jadi additional vocal di album “Matraman”. Kita ketemu lagi saat tur bareng Bite, saya ajak dia naik mainin “Antah Berantah”, seru-seruan aja tanpa latihan. Seru dan pas. Rian, biasa dengan tempo-tempo ala The Upstairs dan ketukannya lebih membuat orang bergoyang. Formasi ini emang mengembalikan suasana di era-era Matraman dulu.

Peran MC benar-benar sentral tidak sih dalam sebuah acara?

Tergantung kebutuhan sih sebenarnya. Terkadang ada acara yang tidak butuh MC sama sekali. Cuman seperti hari ini ada Adjis Doaibu, ada Gilang terus ada Ricky Malau memang mereka ini berkarakter. Jadi hiburan tersendiri. Dalam event, mungkin dibutuhkan MC yang mampu menggiring crowd untuk bisa berada di tengah. Mereka yang benar-benar tahu roh acaranya itu. Jadi bikin penonton semakin antusias.

 

*Interview lebih lengkap dapat kamu simak di zine PADANG ON STAGE edisi #3 yang telah terbit bulan Juni 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *