Bernostalgia di Bawah Cuaca yang “Antah Berantah”

Hujan tiada henti mengguyur Padang sejak minggu lalu. Terkadang hanya titik-titik gerimis, terkadang disertai badai. Hujan turun sejak malam hingga pagi hari, berhenti sejenak di siang hari dan kembali membasahi bumi di sore hari. Lalu, apa kabar band The Upstairs yang dijadwalkan tampil di Urbangigs Sabtu (15/10/2016) lalu? Kabar baiknya, alam masih mau sedikit bersahabat sehingga dapat dilaksanakan dengan lancar.

Tugu Merpati Muaro Lasak di Pantai Cimpago menjadi pilihan venue gig itu. Andai cuacanya cerah, mungkin venue ini terlihat lebih indah karena terletak langsung di bibir pantai. Sejatinya, ada empat band yang mentas malam itu, bukan hanya The Upstairs melainkan juga band-band pentolan skena lokal Padang yakni Kalyana, Orkes Taman Bunga dan Nayanika.

Kekhawatiran sempat muncul saat hujan turun pada sore hari dimana Kalyana telah dijadwalkan membuka keramaian. Karena memang, pawang hujan paling tangguh sekalipun tidak bisa menghentikan hujan deras dan angin kencang di sore itu. Beruntung sekali hujan mulai reda selepas maghrib. Selepas Isya, band pop akustik dengan formasi trio beranggotakan Novandre Satria (vokal, gitar, tin whistle), M. Fajar Assyarie (vokal, gitar) dan M. Jaseen Piliang (vokal, tin whistle) pun menaiki panggung. Malam itu mereka membawa serta dua orang vokalis wanita yang berasal dari tim paduan suara Andalas Choir. Satu demi satu lagu-lagu dilantunkan, diantaranya lagu berjudul “Potret Senja”, “Sang Pengeluh” dan “Lagu Tidur Untuk Nya”.

Orkes Taman Bunga memecah keramaian dengan sejumlah lagu yang populer di telinga (Foto oleh Muhammad Ihsan Maulana/PADANGONSTAGE.COM)

Orkes Taman Bunga memecah keramaian dengan sejumlah lagu yang populer di telinga (Foto oleh Muhammad Ihsan Maulana/PADANGONSTAGE.COM)

Setelahnya, giliran orkes yang tampil mencolok dengan kostum warna warni naik ke panggung, Mereka adalah Orkes Taman Bunga, band asal Padang Panjang yang telah terbentuk sejak tahun 2012. Orkes ini atraktif, kocak, dan nyaris terlihat seperti sarden yang berhimpitan di panggung yang kecil. “Orkes lokal irama kultural” begitulah sang vokalis memperkenalkan musik yang mereka bawakan.

Orkes Taman Bunga memecah keramaian dengan sejumlah lagu yang populer di telinga (Foto oleh Muhammad Ihsan Maulana/PADANGONSTAGE.COM)

Orkes Taman Bunga memecah keramaian dengan sejumlah lagu yang populer di telinga (Foto oleh Muhammad Ihsan Maulana/PADANGONSTAGE.COM)

Penampilan mereka dibuka dengan lagu Mars Taman Bunga yang membuat para penonton maju ke depan panggung untuk bergoyang mengikuti irama dangdut-melayu yang asik. Setelah memperkenalkan diri dan memberikan kabar tentang album yang akan mereka luncurkan di bulan November, OTB membawakan lagu berjudul “Gali-Gali Gaman”. Liriknya yang sarat pesan moral namun lucu ini disambut meriah oleh “Para Kumbang”, sebutan bagi penggemar orkes yang tampil dengan 12 orang personil ini.

Penggemar Warkop DKI pasti kenal dengan lagu yang mereka bawakan selanjutnya. Lagu berirama Timur Tengah yang dipopulerkan oleh Bob Azzam ini berjudul “Ya Mustafa”. Warkop DKI menggubah kembali lagu tersebut dengan lirik berbahasa Indonesia (dan Betawi) untuk film “Mana Tahan” (1979). Malam itu, lagu tersebut dibawakan oleh Orkes Taman Bunga dengan versi mereka sendiri yang tidak kalah seru. Selanjutnya, mereka membawakan lagu berjudul “Love Story” dan diakhiri dengan lagu populer milik Pharrel Williams, “Happy”.

Meski dua personelnya absen, Nayanika bermain apik di Pantai Cimpago (Foto oleh Muhammad Ihsan Maulana/PADANGONSTAGE.COM)

Meski dua personelnya absen, Nayanika bermain apik di Pantai Cimpago (Foto oleh Muhammad Ihsan Maulana/PADANGONSTAGE.COM)

Penampil selanjutnya adalah band yang memilih musik ambient, math-rock dan post-rock sebagai aliran musik yang mereka bawakan, Nayanika. Band yang berisikan para dokter (dan calon dokter) ini tampil tanpa kehadiran dua personel asli mereka yang saat ini sedang mengabdi di luar Sumatera. Meskipun begitu, mereka tetap tampil memukau saat membawakan lagu-lagu andalan mereka seperti “Harap”, “Kelana”, “Kembang Seberang” hingga “Malika”.

Kehadiran The Upstairs di Pantai Cimpago Padang menjadi ajang nostalgia tersendiri bagi Jimi Multhazam yang sempat menghabiskan masa muda di tanah Minang Meski dua personelnya absen, Nayanika bermain apik di Pantai Cimpago (Foto oleh Muhammad Ihsan Maulana/PADANGONSTAGE.COM)

Kehadiran The Upstairs di Pantai Cimpago Padang menjadi ajang nostalgia tersendiri bagi Jimi Multhazam yang sempat menghabiskan masa muda di tanah Minang (Foto oleh Muhammad Ihsan Maulana/PADANGONSTAGE.COM)

Band yang paling ditunggu malam itu, The Upstairs, naik ke panggung sekitar pukul 21.30 WIB. Jimi Multhazam dan kawan-kawan membawakan lagu “Antah Berantah” sebagai pembuka penampilan mereka. Musik new wave yang menghentak mengundang para penonton untuk kembali memenuhi bagian depan panggung dan bergoyang bersama. Sang vokalis lalu menyapa para penonton malam itu dengan Bahasa Minang yang fasih. Ya, ini adalah momen pulang kampuang bagi Jimi Multhazam yang berdarah Minang. “Tigo puluah tahun lalu ambo pernah sakolah di Adabiah Duo, baa  kaba sakolah tu kini?” tanyanya pada penonton.

Band yang telah eksis sejak 12 tahun lalu ini melanjutkan penampilan mereka dengan membawakan lagu “Cosmic G-Spot”, “Apakah Aku Berada Di Mars Ataukah Mereka Mengundang Orang Mars”, “Modern Bob”, “Satelit, Dansa Akhir Pekan”, “Semua Terekam Tak Pernah Mati” dan “Gadis Gangster”. Namun di penghujung lagu “Gadis Gengster”, hujan deras kembali turun. Hanya tersisa beberapa orang yang rela kehujanan dan terus berdansa di depan panggung.

Berdansa resah bersama The Upstairs di Pantai Cimpago (Foto oleh Muhammad Ihsan Maulana/PADANGONSTAGE.COM)

Berdansa resah bersama The Upstairs di Pantai Cimpago (Foto oleh Muhammad Ihsan Maulana/PADANGONSTAGE.COM)

Penampilan The Upstairs malam itu diakhiri dengan salah satu lagu andalan di album Energy (2006), Disko Darurat. Siapa yang tidak kenal lagu dengan chorus repetitif yang membuat candu ini? Jika saja hujan mau menunggu sejenak, mungkin penampilan terakhir tersebut akan lebih berkesan. Lalu di manakah lagu Matraman? Meskipun tertulis di setlist sebagai lagu terakhir, namun lagu yang paling banyak diinginkan penonton ini batal dibawakan.

 

*Teks kontribusi dari Anshari Rahmi, music blogger yang meyakini bahwa ia akan terserang penyakit gila jika tidak mendengarkan musik. Memiliki motto “lebih baik menguyah daripada bergosip”. Sedang terobsesi dengan cuka apel, Shiina Ringo, dan pre-code movie. Ia bisa ditemui di Instagram @ansharirahmi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *