Q&A: Rangga Ranggon

Banyak perspektif berkembang di dalam lingkungan sosial kita, dan hal-hal itu kerap menimbulkan pro kontra. Persepsi ini itu tak henti melayang-layang di kepala kita, tanpa alasan dan landasan yang kuat. Kita terdorong untuk meyakini kebenaran sepihak dan mengaminkannya, terjebak di dalam sebuah klise. Dan itu sungguh tak menyenangkan.

Persoalan-persoalan ini barangkali karena komunikasi yang tidak begitu rapat. Menilik perkataan Ananda Badudu yang tertuang di dalam buku “Questioning Everything!”, ada dua cara ampuh untuk mengenali isi kepala seseorang agar terjauh dari persepsi. Pertama, lihat koleksi bukunya. Kedua, luangkan waktu untuk berbincang dengan orang tersebut. Yap, mungkin kita butuh banyak berbicang dan membongkar pondasi pandangan kita dalam menginterpretasikan sesuatu.

Belum lama ini saya berkesempatan berbincang dengan Rangga Ranggon. Band-nya, Lalang, tengah mempersiapkan album debut bersama Daydreams Records pada tahun ini. Di sela-sela proses penggarapan album, Ranggon secara personal beberapa waktu lalu mengikuti sayembara karya musik gagasan sebuah distributor audio asal Jakarta di kanal Instagram. Nama-nama seperti Asteriska, Robi Navikula dan Rodney menjadi tim penilai karya-karya musisi yang berpartisipasi secara nasional. Singkat cerita, Ranggon berhasil berada dalam 12 besar musisi pilihan juri. Saya lalu memperbincangkan ini dengannya.

Rangga Ranggon (Foto oleh Varize Yudhistira/PADANGONSTAGE.COM)

Rangga Ranggon (Foto oleh Varize Yudhistira/PADANGONSTAGE.COM)

Boleh cerita bagaimana bisa sampai masuk 12 besar?

Tahapannya kita mendaftar di situsnya, terus bikin live video musik karya sendiri. Kalau tidak salah, ada sekitar 500 orang/karya yang berpartisipasi di Indonesia. Dan itu harus mutlak karya dan tulisan kita sendiri. Setelah itu juri mulai menyeleksi lagi sampai 100 orang dan dimulai live audition di beberapa kota yang ditentukan. Live audition-nya langsung main one take tanpa boleh diulang. Ada enam kota yang menjadi tempat live audition. Hanya dua orang yang dipilih pada setiap kota. Aku ikut live audition di Medan.

Berapa orang yang dari Padang?

Cuma aku sendiri.

Bercerita tentang apa karya Ranggon dalam kompetisi itu?

Karyaku bicara tentang sisi sensitif dari pribadi seseorang yang bisa dibilang selalu berada dalam bayang kepiluan dalam perjalanan hidupnya, tapi kepiluan itu bukan membuat dia lemah. Malah semakin kuat dan tegar dalam kondisi apa pun.

Apa alasan Ranggon berpartisipasi dalam kompetisi ini?

Aku cuma ingin karyaku lebih mendapat pengakuan lebih luas, dan kemenangan itu bonus. Mungkin ada beberapa teman yang kurang setuju dengan kompetisi ini, aku mengerti, karena bagiku sendiri karya memang tak perlu diperlombakan. Tapi, di sini kita benar-benar bawa karya idealis masing-masing tanpa di-setting oleh pihak manapun. Kebebasan dalam berkarya dijunjung tinggi, begitulah kira-kira.

Bagaimana menyikapi pandangan pro kontra dari teman-teman skena?

Aku tidak terlalu peduli terhadap pandangan itu. Dan juga aku tidak mewakili skena manapun. I just do it by my self dan tak ada yang berubah dari musik dan caraku berkarya. Aku mengikuti tak lebih hanya ingin memberi tahu kalau seniman Padang tidak sembarangan. Aku punya niat yang lebih besar untuk memperkenalkan sumber daya manusia Padang dalam berkarya. Toh selama ini aku juga bergerak sendiri dalam menyuarakan karyaku dan tidak pernah merepotkan teman-teman. Itu cuma pandanganku saja. Dibalik itu semua aku tidak pernah bermasalah dengan teman dan skena manapun, aku selalu menyunjung tinggi pertemanan. Dan secara pribadi teman-teman yang berada di skena selalu bersikap baik karena kebanyakan dari mereka juga teman lamaku. Keep respect!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *