Menegurmu Melalui Bait-bait Social Trap

Distorsi tebal, ketukan drum agresif, dan balutan vokal rap yang khas tampak menjadi sebuah tubuh di dalam EP berjudul Bebas Apa Merdeka milik band Social Trap yang digawangi oleh Rizki pada vokal rap, Asep pada gitar dan Yudhi pada drum. Semangat perlawanan terhadap penindasan rakyat kecil sangat terasa dari semua lagu mereka. Dengan jelas, kritik pada hal-hal politik, sosial, serta lingkungan dideskripsikan secara liar dan jujur, bak memberi soul pada tubuh yang kosong.

EP Bebas Apa Merdeka (Foto oleh kontributor Durio Rivan/PADANGONSTAGE.COM)

EP Bebas Apa Merdeka (Foto oleh kontributor Durio Rivan/PADANGONSTAGE.COM)

EP Bebas Apa Merdeka ini berisikan lima track, yaitu “Part Politik”, “Esok Entah Apa lagi”, “Bebas Apa Merdeka”,  “Karhutla” dan “State ‘Represei’tatif”. Butuh proses hampir dua tahun sebelum EP Bebas Apa Merdeka dirilis pada pertengahan tahun 2015 lalu. Menurut Rizki sang vokalis, proses panjang yang mereka tempuh merupakan refleksi perjuangan untuk menelurkan karya yang sesuai passion. “Untuk mengumpulkan materinya sendiri itu di akhir tahun 2013. Cuma enggak bisa dipungkiri kita juga dihadapkan dengan beberapa hambatan dan alasan klasik, mulai dari nyari waktu yang sama karena memang kita punya rutinitas masing-masing di luar Sosial Trap. Kita cicil seberapa sanggupnya,” beber Rizki saat saya berkesempatan berbincang dengannya.

Bagi saya pribadi, track nomor empat berjudul “Karhutla” adalah lagu yang paling menarik genderang telinga saat mendengarkannya. Lagu ini menyimpan penggambaran sudut pandang keresahan terhadap kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kecerobohan manusia. Kekuatan lirik di dalam “Karhutla” begitu kuat, baik dari segi istilah dan metafora serta pengurutan setiap kata-kata, terasa kaya akan bahasa. Ibarat kaki pada tubuh, track ini menjadi kaki tumpuan Social Trap menggerakkan keresahan-keresahan mereka.

Tak hanya menarik dari segi musikalitas, sampul EP Bebas Apa Merdeka ini juga cukup apik. Artwork dan layout yang mengemas EP itu adalah kolase dari karya-karya Noktvrnavt, Jack The Grinder serta Katanyawa. Di sisi bagian dalam E.P juga terdapat sebuah kutipan kata-kata Alexander Brenner yang tajam untuk menjadi renungan. Satu hal lagi yang patut diapresiasi dari karya tiga sekawan ini adalah komitmen mereka pada lingkungan sosial, dimana pendapatan komersil dari EP tersebut sepenuhnya mereka donasikan pada Perpustakaan Shelter Utara, yang terletak di kawasan Siteba, Padang. Salut!

*Artikel ini sebelumnya terbit di edisi cetak zine PADANG ON STAGE edisi #2 di bulan Maret 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *